Welcome to my Blogg^^
Assalamu'alaikum Warahmtullahi Wabarokatuh

Kamis, 01 Juli 2010

Nasihat dari dalam Bus Kota : Sabar dan Shalat

Rizqy Ath-Thaliby
Assalamu’alaikum wr. wb.
Syukur alhamdulillah karena saya telah diberikan keselamatan sampai di rumah, setelah melakukan perjalanan dari Surabaya malam ini tadi.

Subhanallah, Allah memang memberikan rezeki kepada hamba-Nya dari arah mana saja. Dan saat pulang naik bus kota tadi, saya mendapatkan sebuah rezeki yang paling berharga dari seorang bapak tua yang duduk di samping saya. Rezeki itu adalah ilmu. Dan untuk itu, setelah sampai rumah, saya langsung menulis message ini agar ilmu itu tak hilang. Bukankah cara untuk mengikat ilmu dengan menulisnya? Begitu kata ‘Ali bin Abi Thalib ra.

Langsung saja..Kebetulan kami (saya & bapak tua. sama ibu saya juga sebenarnya. tapi beliau duduk di belakang), yang naik bus Damri, sampai di terminal Bungur Asih tepat saat azan maghrib berkumandang. Sekitar sepuluh menit sebelum sampai terminal, beliau berpesan. “Ingat surat Al-Baqarah ayat 153...bla..bla..bla..sabar dan tegakkan shalat”. Setelah memberikan nasihat itu, kami sampai di terminal. Kami shalat bersama, setelah selesai, beliau melanjutkan perjalannya ke Malang. Kami pun berpisah.

Dan setelah sampai rumah, saya membuka al-Qur’an. Ternyata isi ayatnya yang lengkap berbunyi,

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah [2]:153)
============================================
Subhanallah..benarlah apa yang dinasihatkan bapak itu. Mari kita urai sedikit hadits ‘yang terlupa’ tentang Sabar dan Shalat. Yukkk!!

Yang pertama..Kita pasti sering mendapatkan mushibah. Ingatkah kita apa yang kita lakukan ketika musibah menimpa? Ngomel-ngomel kah? Atau menggerutu. Atau malah ada yang ngeluh, ‘yyyuuuhh!’ baru bilang ‘sabar..sabar..sabar.’ sambil ngelus dada. Tidak tahukah antum jika, “Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula (pertama kali) tertimpa musibah.” (HR. Bukhari)

Tanpa kita sadari, kita sering melakukan hal di atas. Saat tertimpa musibah tak langsung istighfar, tetapi nyari-nyari sesuatu yang bisa dijadikan kambing hitam dulu. Misalnya kita kepentok kursi, “Wooo, kursi nih!” nah lho! Ngambing hitamin kursi. Padahal seharusnya jika kita tertimpa musibah seperti itu, sekecil apapun, hendaknya –minimal- beristighfar, meminta ampun pada Allah atas dosa yang kita perbuat.

Dari sebuah hadits riwayat ‘Aisyah ra. “Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada seorang muslim pun yang tertusuk duri atau tertimpa bencana yang lebih besar dari itu kecuali akan tercatat baginya dengan bencana itu satu peningkatan derajat serta akan dihapuskan dari dirinya satu dosa kesalahan.” (Shahih Muslim No.4664)

Jadi, jika kita mendapat musibah, marilah kita jadikan itu sebagai sebuah renungan. Juga sebagai bahan evaluasi diri atas kemungkaran yang kita perbuat, entah itu sekecil dzarah sekalipun.

Yang kedua..Ketika berdiri shalat terasa berat, ketika pejaman mata lebih menggiurkan, ketika tulang terasa tak nyambung dengan sendinya, kita sering mengatakan, “Shalat? Capeeekk!! Istirahat dulu sebentar ya!”

Bebankah shalat itu?

Iya untuk kita, tetapi itu tidak untuk Rasulullah. Ketika tulang-tulang terasa berlolosan dalam jihad, rasa kebas di otot dan kulit berkuah keringat, Sang Nabi bersabda pada muadzinnya, ”Yaa Bilal, Arihna bish shalaah.. Hai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat!”

Ya, ketika shalat dijadikan nikmat, sujud sarana istirahat, kita akan sambut shalat kita dengan hati gembira. Tak ada beban dalam shalat. Yang ada hanya istirahat bagi seorang muslim yang lelah sehabis bekerja.

Itulah yang sering kita lupakan kawan. Shalat kita anggap sebagai beban, padahal Allah memberikan shalat lima waktu sebagai sarana kita berdoa kepada-Nya. Dan bentuk ibadah yang sebaik-baiknya bagi kaum muslim adalah shalat. Di dalam bacaan shalat terdapat doa-doa yang shahih, terdapat gerakan refleksi untuk kesehatan tubuh, dan -jika mendapatkan- terdapat khusyuk yang mampu menjernihkan hati dan pikiran kita.

Semoga kita termasuk orang yang diberi kelapangan dada dan kesabaran yang luar biasa. Semoga kita juga termasuk ke dalam golongan orang-orang yang tak melalaikan shalat, yang menjadikan shalat sebagai tiang agama, penyempurna iman, dan kebahagiaan tak terelakkan. Aamiin..

Wallahua’lam bishshawab..

Wassalam..

Thalib Ar-Rizqy

Renungan Jiwa - Pesona Kematian

Sa'id Al-Qassam
Pagi kemarin aku ta’ziyah. Ayah temanku berpulang. Sebuah ritual jiwa. Pengalaman yang menggugah rasa. Penuh dengan pesan sacral. Sebuah tanda keberadaan-Nya. Sebuah bukti kekuasaan-Nya. Sarat dengan ibroh. Tentang kehidupan. Tentang persiapan. Tentang amalan. Tentang akhir perjalanan. Tentang hakekat kematian. Tahukah kau apa sebenarnya hakekat kematian? Kehidupan. Ya, hakekat kematian adalah kehidupan. Unik sekalikan?! Seperti itulah makna pesan Abu Bakar Shidik RA kepada para tentaranya. “Pergilah kalian mencari kematian, niscaya akan kau dapati kehidupan.” Seperti itu juga Allah menyebutkan : Jangan kamu kira mereka yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Mereka justru hidup dan mendapat rizki…

Belum selesai menulis ini seorang teman yang lain mengirim SMS : “Ya Allah, tidak ada kehidupan yang sesungguhnya kecuali kehidupan akhirat…(mutafaqun alaih)”. Kehidupan dunia menipu. Kehidupan akhirat hakiki. Betapa haru biru hatiku. Seharusnya, ibroh kematian membuat semakin lembut hati. Peristiwa kematian, adalah pembelajaran tentang kematian. Pembelajaran tentang kehidupan. Bukanlah kematian adalah akhir kehidupan, tapi justru awal kehidupan sesungguhnya. Sangat berbeda mata dan hati melihatnya. Mereka menganggap sebuah akhir. Kita menilainya sebuah awal. Mereka menganggap sebuah kehinaan. Kita meyakini sebuah kemuliaan. Seperti itulah tanda kelemahan diri kita, manusia. Ketakmampuan menilai. Kelemahan memahami. Keterbatasan akal. Kedangkalan jiwa. Kekurangan amal. Kebanyakan dosa.

Bahkan, jika mengingat kematian, tak selalu menggetarkan.
Tak melahirkan ketakutan.
Tak menimbulkan ketundukan.
Tak bertambah keimanan.
Sungguh, betapa berani si lemah ini menentang.
Betapa sombong si degil ini melawan.
Betapa malas si pandir ini beribadah.
Jiwa yang lemah, semakin lemah.
Hati yang buta, semakin renta. Terjebak dunia.
Tertipu usia. Mati sia-sia.

Padahal, kematian adalah pesona. Ujung jalan kita adalah kematian. Dan kita mesti berlomba mengindah-indah kematian.

Pesona kematian. Husnul khotimah.
Bukan mengindah-indah kehidupan.
Menambah-nambah kekayaan.
Mengumpul-ngumpul harta.
Mengejar gelar dan tahta.
Melupakan kematian.
Karna kematian sangat dekat.
Sedekat urat leher kita.
Selalu disini. Mengikuti kemana pergi.
Bukan menghindari. Tapi menghadapi.
Bukan menipu diri. Tapi tambah amalan. Tambah bekalan.

Pesona kematian menjelma dalam keyakinan yang teguh. Dalam kerja berterusan. Dalam kesabaran. Dalam pengorbanan. Dalam perjuangan. Dalam ketsiqohan. Dalam keikhlasan. Dalam kesempitan. Dalam kelapangan dada. Dalam kata maaf. Dalam senyum. Dalam empati. Dalam kata. Dalam tatap mata. Dalam detak jantung. Dalam setiap langkah. Dalam tarikan nafas. Dalam sholat. Dalam doa. Dalam hidup di dunia. Ya Robb.. jadikan hidupku penuh barokah. Jadikah matiku husnul khotimah.